Selasa, 14 April 2009

G-3 (episode 1)

Selasa, 14 April 2009
The Beginning

Edo melangkahkan kaki menuju kampus tercintanya itu dengan gembira. Senang. Melihat sahabat-sahabat yang sudah lama tak ditemuinya beberapa minggu terakhir. ‘Hai Matt......’ sapanya kepada seorang laki-laki sebayanya. Mereka berdua pun saling melepaskan rindu dan bercengkrama.
Tahun ajaran baru ini memang terasa lain bagi laki-laki berumur 21 tahun itu. Namanya Edo. Nama lengkapnya Edo Satria Purnamalaki. Nama yang cukup mewakili sosok seorang laki-laki yang benar-benar laki. Dia berasal dari keluarga yang berkecukupan. Ibunya bekerja sebagai karyawati di sebuah pabrik Garmen terkemuka di Bandung sementara ayahnya sebagai ayah rumah tangga. Tak ada yang istimewa dari dirinya. Edo juga merupakan anak yang cukup cerdas dari SD dulu.
‘Do..... apa kabar?, Makin berisi saja dikau.....’
Terdengar suara yang cukup nyaring di balik pintu gedung Biologi. Suara yang tak aneh lagi. Suara yang sudah terkenal. Suara Christina.
‘Hey .... gw baek-baek aja. Klo loe gimana? Eh mana yang lain? Sehat-sehat aja kan mereka? Kalau .........’ Edo memberondong pertanyaan yang telah menumpuk di pikirannya selama ini. Pertanyaan yang terus keluar. Tumpah ruah bagai pistol yang memuntahkan serentetan peluru.
‘Woi...woi... nyantai men.....’ sergah Christina seraya menutup mulut Edo dengan jari telunjuknya.
‘Kaya radio butut aja....ngomong terus.....’
Itulah salah satu sifat Edo. Lelaki itu sangat antusias ingin bertemu dengan sahabat-sahabatnya itu. Ingin bertemu dengan anggota geng-nya yang selama ini telah menghiasi kehidupannya di dunia. Geng yang amat dicintainya. G-three.

Matahari bersinar dengan bahagia. Tak ada ketakutan yang terlihat dari pancaran sinarnya. Tak ada tanda-tanda akan menghilang di balik awan. Hari itu seperti siang yang tak akan berakhir.
‘Anjis, gila. Panas banget yah hari ini.’ teriak Wulan sambil mengibas-ngibaskan sebuah buku tentang Animal Behaviour ke lehernya yang berkeringat.
‘Iya .....’ sambung Lia.
‘Eh kalian mau mesen apaan neh?’ tanya Edo kepada semua orang.
‘Gw mesen Sirloin steak’ jawab Wulan.
‘Gw Tenderloin aja’ jawab Matty.
‘Gw juga Sirloin, klo Andi kayanya dia mesen Strawberry Float aja deh’ jawab Lia sambil menunjuk Andi yang sedang memainkan handphone milik Edo. Andi pun mengangguk.
‘Klo kalian bertiga?’ tanya Edo kepada Christina, Yuni dan Raya.
‘Kita Chicken Steak aja’ jawab Raya yang diiyakan oleh kedua sahabatnya yang lain.
Edo segera bangkit. Tubuhnya menghempas menjauhi meja makan dan mendekati meja pelayanan menu.
‘Ini pesanan menunya Mas..’ Edo menyerahkan selembar kertas bertuliskan pesanan sahabat-sahabatnya. ‘Minumnya teh botol saja untuk 7 orang...’ lanjutnya sebelum pelayan itu masuk ke dalam dapur untuk menyiapkan makanan.
Edo kembali ke mejanya dan segera bergabung bersama sahabat-sahabatnya. Mereka saling bercerita tentang liburannya masing-masing. Bercanda. Bersenda gurau. Sampai pesanan masing-masing orang tiba. Makan siang pun dimulai sambil berbincang-bincang satu sama lain.

Denting jam menunjukkan waktu pukul 00.00. Tengah malam. Malam itu terasa dingin. Rembulan agak malu-malu untuk menampakkan diri. Di kasur yang empuk itu terlihat seseorang yang sedang gelisah. Tak bisa tidur. Tak bisa memejamkan mata. Tak ada lagi seseorang yang menemaninya tidur. Sendiri. Hanya ditemani bantal dan guling yang membisu bersama dinding kamar yang merekam semua kejadian di kamar tersebut.
Sudah beberapa minggu ini Edo tidur sendiri tanpa seseorang di sampingnya. Tapi apa boleh buat. Itulah yang harus dijalaninya mulai dari sekarang.
Tidak. Tidak. Aku harus melupakannya. Aku tak mau begitu. Aku harus kuat. Aku tak mau terlibat lebih jauh lagi... Aku.....
‘Tok...tok...tok....’
Suara pintu diketuk membuyarkan semua lamunan Edo. Ia pun bangun dan dengan langkah gontai menghampiri pintu asal suara tersebut. Diputarnya grendel pintu dan muncullah seorang wanita paruh baya dengan muka yang agak lelah dan pucat seperti telah berlari mengelilingi lapangan Tegallega sebanyak 100 kali.
‘Oh.. Mama. Ada apa?’ tanya Edo.
‘Belum tidur yah. Eh Mama mau pesen roti lagi dari temen kamu itu. Emm... namanya siapa sih...?’
‘Dari Khrisna?’ jawabku dengan malas.
‘Oh iya..iya. Khrisna. Pesen 2 lusin yah buat hari minggu. Nanti ada arisan keluarga di rumah.’ jawab Mama Edo.
‘Jangan lupa yah....’
Mama Edo pun pergi menuju kamarnya di sebelah kamar anak lelakinya yang tercinta Edo.
Sialan. Orang itu lagi. Kenapa aku harus menemui orang itu lagi.
Edo segera meraih selimut dan segera membenamkan dirinya. Ia teringat pesan mamanya. Apa yang harus ia lakukan? Ia tak mau teringat Khrisna. Orang itu telah merubah hidupnya kini. Tapi mamanya kan berpesan.
Bingungggggggggggggg............

‘Akhirnya kita bisa jalan-jalan lagi neh se-geng’ teriak Wulan dengan penuh suka cita.
Hari itu Edo dan geng-nya merayakan hari jadi G-three. Lembang jadi pilihannya. Disamping alam yang indah dan memukau. Hamparan kebun teh bagai permadani hijau yang menyelimuti bumi. Udara dingin yang sejuk amat pas dengan suasana hati yang menginginkan ketenangan dan kebahagiaan. Matahari pun seakan malu-malu memunculkan wajahnya padahal waktu menunjukkan pukul 11 siang.
Pelan-pelan tapi pasti Edo menurunkan barang bawaannya dari rumah. Wulan segera membantu. Tikar digelar. Makanan disajikan. Tercium aroma masakan yang menusuk hidung siapa pun yang menciumnya. Wangi masakan ibunya memang terkenal harum, apalagi jika memakannya. Wah, tak akan bisa diungkapkan dengan kata-kata. Rasanya ingin tambah dan tambah lagi. Itulah yang menyebabkan tubuh Edo semakin berisi saja.
Wulan kemudian segera merapikan makanan-makanan yang terhidang. Wanita ini terlihat biasa saja, namun ada sesuatu yang membuat Edo memiliki suatu perasaan lebih kepadanya. Wanita itu sangat perhatian. Terdapat sosok seorang wanita yang keibuan, penyayang dan perhatian dibalik tubuhnya yang mungil itu. Dia merupakan teman SMA Edo. Begitu juga dengan Christina. Nama lengkapnya Sekar Ayu Wulan. Entah kenapa ingin dipanggil Wulan, padahal sesungguhnya nama Ayu sudah baik untuk panggilannya. Sesuai wajahnya yang cantik dan ayu.
Edo terpesona melihat Wulan yang membantunya mengatur semua perlengkapan makan siang mereka.
‘Hoi.... bengong aja. Cepet bantuin’.
Terdengar teriakan seorang wanita. Wulan. Wanita itu melotot tajam kearah Edo sambil berteriak lagi.
‘Hellooo.......’
Edo pun segera sadar dari lamunannya. Ia pun segera membantu Wulan memanggil sahabat-sahabatnya yang lain. Luasnya kebun teh membuat Wulan dan Edo kewalahan mencari sahabatnya.
‘Aduh capek........’ keluh Wulan.
Kepalanya menyentuh bahu Edo yang sedang beristirahat. Kemudian ia bersender dan akhirnya meletakkan kepalanya pada paha Edo. Edo kaget sekaligus bahagia. Ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Edo membelai rambut Wulan dan membiarkan wanita yang didamba-dambakannya itu tertidur pulas di hadapannya. Wanita suci yang cantik tertidur dengan lembut.
Cantiknya wanita itu. Wulan. Wulan.
Perasaan yang telah lama terpendam akhirnya muncul lagi dari dalam hati Edo. Lelaki itu menginginkan wanita di hadapannya menjadi miliknya untuk selama-lamanya. Tak boleh ada yang menyentuhnya. Apalagi memilikinya. Hanya dia yang boleh. Hanya dia.

Edo mendengar suara-suara aneh. Seperti suara orang makan. Ia membuka mata. Terlihat sahabatnya sedang menikmati masakan ibunya. Semua tampak semangat. Hampir tak tersisa makanan pun di tikar. Semua habis. Habis.
‘Hah.... HABIS!!!!’ teriak Edo.
Wulan yang tertidur pulas di pangkuannya terkejut dan membuka matanya.
‘Ada apa sih... ribut-ribut aja’ keluhnya.
‘Hah..... HABIS!!!! HABIS!!!! SMUAAA!!!!’ teriak Wulan sambil membelalakkan matanya. Seketika itu Wulan langsung menyambar piring Andi dan menyantap makanan yang tersisa.
Semua terkejut dengan tingkah Wulan. Tak sangka wanita sekecil itu mampu menyerobot dengan kasar. Edo cengingisan melihat tingkah Wulan.
Setelah kejadian yang menghebohkan tadi, semuanya berkumpul untuk merayakan hari jadi G-three dan ber-flash back hari-hari mereka selama menjadi anggota.

0 comments: