G-three
‘Edooo.... besok jadi ga ke Ciparay? Jadi yah..... plis’ teriak Christina dengan penuh harap. Christina Martha Siagian. Wanita ini emang aneh. Tapi dia termasuk orang baik juga. Marganya yang sama dengan penyanyi jebolan Indonesian Idol Firman Siagian membuat Edo bertanya-tanya apakah sahabatnya bisa bernyanyi sebagus Firman? Tapi nyatanya bertolak 180 derajat. Suaranya memang keras tapi amat cempreng.... Sampai semua anak-anak Biologi tahu betul khasnya suara Christina.
‘Iya...iya...’ jawab Edo dengan tegas.
‘Semuanya ikut kan? Matty, Wulan, Lia ama Yuni. Mereka ikut juga kan?’ tambahnya.
‘Iya. Mereka ikut. Ya udah deh sampai besok’. Christina pun pergi meninggalkan Edo.
Alunan musik dari gitar mengalun merdu. Disertai suara-suara fals dari belakang. Ditambah satu suara cempreng membuat keadaan di dalam mobil Espass itu menjadi gaduh dan ribut. Maklum ini kali pertama mereka jalan-jalan bareng sekalian mempererat pertemanan mereka karena masih baru kenal. Belum mengenal satu sama lain.
Perjalanan selama kurang lebih 2 jam itu mereka lalui dengan bercanda-canda. Sambil bernyanyi-nyanyi riang sesekali mereka memandang indahnya pegunungan dan sawah yang terhampar di hadapan mereka. Burung-burung berterbangan mengikuti laju kendaraan beroda empat itu seakan-akan ingin menikmati kebahagiaan yang dirasakan oleh Edo dan sahabat-sahabatnya.
‘Aduh.... berhenti dulu dong.... kebelet neh...... ada pom bensin ga? Aduh ga tahan neh.....’ bisik Yuni ke telinga Lia.
‘Edoo.. bisa berhenti dulu ga? Tuh di depan ada pom bensin.’ Lia segera menunjuk arah tanda gambar Pertamina.
‘Si Yuni dah ga tahan nih....’ lanjutnya.
Yuni....Yuni...Yuni...Prameshwara Asri Wahyuni. Wanita berkerudung ini memang agak manja. Apapun yang dia ingin pasti harus dilakukan. Seperti saat ini.
Di samping Yuni duduk pula Lia. Devalia Deshi Utami. Lia adalah wanita yang bijaksana dan dia juga telah bertunangan dengan lelaki asal Majalengka yaitu Yoga Indra Prabowo. Namun jangan lengah karena melihat penampilannya yang alim. Di balik itu semua terdapat kepribadian yang membuat semua orang menjerit dan membelalakan mata. Wanita penggoda. Julukan itu yang bisa disematkan kepadanya.
Mereka berdua segera menuju toilet di belakang. Sementara itu Matty dan Edo mengisi bensin. Christina dan Wulan tertidur pulas di jok belakang.
‘Bentar lagi nyampe’ kata Edo pada Matty.
Matty adalah sahabat karib Edo ketika di masa Ospek. Matthew Talahat Muson Gallendra. Nama yang agak aneh untuk orang Indonesia. Orangnya cukup baik dan enak untuk diajak curhat namun lelaki itu amat tertutup tentang dirinya sendiri.
‘Oh ya?’ balas Matty
Rupanya Matty sudah tak sabar ingin sampai ke tujuan. Rumah saudara Edo di Ciparay. Udara yang sejuk dan lembut. Hamparan permadani yang hijau. Kolam ikan yang berisi ikan-ikan mujair yang siap dipancing dan alunan gemericik air sungai yang mengalir. Matty pun membayangkan semuanya itu sepanjang perjalanan tadi.
Rumah 1 lantai berdiri kokoh di atas tanah yang luas. Terlihat tempat parkir mobil dan tempat cuci mobil di sampingnya. Warung di depannya. Kolam dan kebun di pinggiran lainnya berdekatan dengan mushalla. Rumah yang mempunyai 4 kamar itu cukup luas untuk tempat menginap mereka. Mereka akan menginap di ruangan belakang dekat kolam yang terdapat 1 kamar kosong.
Mereka masuk. Edo memperkenalkan sahabat-sahabatnya kepada saudaranya. Edo berbicara bahwa mereka akan menginap selama 2 hari. Dia pun bergegas menyusul ke 5 sahabatnya ke ruangan belakang setelah mendapatkan ijin dan merapikan ruangan tersebut.
‘Kita semua tidur disini yah.’ bisik Edo kepada ke 5 sahabatnya. Laki-laki tidur di sebelah kanan dan wanita tidur di sebelah kiri. Mereka berenam langsung tertidur pulas setelah perjalanan yang lumayan panjang. Mimpi pun menjadi saksi kebisuan mereka yang pikirannya telah terbawa ke alam lain.
‘Banguun.....sshh.....banguuunnn.....’
Suara mendesah terdengar di telinga Edo. Terdengar seperti suara seorang wanita yang menginginkan belaian seorang laki-laki. Suara orang yang ingin diberi kehangatan dan kenikmatan. Suara yang haus kasih sayang. Suara yang.........
‘Wooooiiiii banguuuunnnnn..............’ jerit Christina.
Bayangannya buyar seketika. Kepalanya mendongak. Dengan kesal ia pun bangun dan segera membersihkan diri dan mandi. Edo menggerutu kesal dan bergumam selama ia mandi. Tapi kekesalan itu hilang sirna setelah ia melihat seonggok makanan berwarna putih di atas meja beserta suatu bumbu berwarna merah. Itu... itu kan BANGKEROK ....... teriak Edo sambil melepaskan handuk yang melilit tubuhnya. Tak dihiraukan lagi mata-mata yang melihat dirinya yang hanya memakai celana dalam. Model tanga pula. Edo begitu sibuk dengan makanan di mulutnya. Dengan santai ia bertanya pada yang lainnya.
‘Kok ga pada makan? Enak loh.... Cepetan keburu abis ma gw...’
Edo dengan lahap menyantap ketan goreng yang dinamakan bangkerok itu. Makanan itu menjadi favoritnya di Ciparay. Datang ke Ciparay tidak lengkap tanpa kehadiran makanan dari ketan tersebut. Begitu pikir Edo.
Setelah makan, Edo segera menuju kamar. Diraihnya kaus berwarna hitam yang tergantung di pintu dan celana pendeknya. Dia memberi isyarat pada Matty. Mereka berdua menuju dapur dan segera ke kolam. Mereka berdua memang berencana memancing hari itu.
Melihat gelagat 2 orang lelaki itu, Wulan dan Lia segera mengambil ember kecil untuk ikan. Christina dan Yuni segera bergabung setelah mereka membersihkan piring tempat makan bangkerok tadi.
Mereka berenam berkumpul di tepi kolam. Saling bergantian memegang tali pancing. Namun hanya Edo yang mendapatkan ikan. Wulan dan Matty memang mendapatkan ikan namun kecil dan tak bisa dimakan. Akhirnya ikan kecil tersebut dibuang lagi ke kolam. Sementara Christina, Lia dan Yuni tidak mendapatkan apa-apa. Mereka memancing hingga pukul 2 siang. Ikan yang tertangkap sekitar 8 ekor. Cukup untuk makan siang hari ini.
Ikan bakar kecap tersaji di meja. Ikan goreng mentega pun ada. Menu hari ini serba ikan. Plus sambal dadakan dan sambel goreng yang mak nyusss. Tersedia juga sayuran seperti selada dan mentimun. Makanan ala orang desa tersaji hari itu.
Edo menyambar ikan bakar. Dicoleknya sambel goreng dengan selada. Nikmatnya makanan hari itu pikir Edo. Wulan pun tak kalah. Dia menyambar 2 buah ikan goreng mentega. Kecil-kecil makannya banyak.
‘Eh.... tau ga di kampus ada geng Bondinc...?’ Lia membuka obrolan.
‘Oh yang anggotanya cewe-cewe yang sok cantik itu yah...’ jawab Matty dengan gayanya yang dibuat-buat kemayu.
‘Mereka emang cantik-cantik ko...!’ balas Edo.
Di biologi terdapat salah satu geng yang paling populer yaitu Bondinc. Mereka terdiri dari 4 orang wanita yang super duper sexy. Rambut mereka tergerai lurus mirip iklan shampo ternama. Banyak laki-laki yang sering melirik mereka. Tapi sayang seribu sayang. Wanita-wanita itu tak mau peduli akan lirikan laki-laki yang menatap dengan telanjang kepada mereka. Mereka menganggap itu hanya tatapan kekaguman penggemar terhadap idolanya. Mungkin saja. Tapi lirikan itu seakan-akan menginginkan sesuatu yang lebih dari rasa kagum. Keinginan untuk menjamah. Keinginan untuk mencumbu. Keinginan semua lelaki yang menginginkan sesuatu terhadap pasangannya.
‘Apalagi yang namanya Juwita Putri Hapsari. Tuh cewe sering dilirik anak-anak kampus.’ tambah Edo.
‘Kayanya tuh geng cewe lebih terkenal yah’ Wulan mulai tertarik untuk mengomentari percakapan.
‘Kalo mau terkenal napa kita ga bikin geng juga?’ Yuni menambahkan.
Perkataan Yuni membuat kelima orang tersebut saling melirik. Kenapa hal itu tidak terpikir oleh mereka. Membuat geng. Ya. Geng. Geng mereka sendiri. Geng yang akan membuat mereka terkenal. Saingan Bondinc. Yah. Geng kedua di Biologi.
Setelah berdiskusi lama akhirnya mereka sepakat untuk membentuk geng mereka. GGG (G-three). Singkatan dari Geng Gaul Gitoeh. Maka tanggal 18 April 2004. dibentuklah suatu geng yaitu G-three dengan anggota Edo Satria Purnamalaki, Sekar Ayu Wulan, Matthew Talahat Muson Gallendra, Christina Martha Siagian, Prameshwara Asri Wahyuni dan Devalia Deshi Utami.
‘Edooo.... besok jadi ga ke Ciparay? Jadi yah..... plis’ teriak Christina dengan penuh harap. Christina Martha Siagian. Wanita ini emang aneh. Tapi dia termasuk orang baik juga. Marganya yang sama dengan penyanyi jebolan Indonesian Idol Firman Siagian membuat Edo bertanya-tanya apakah sahabatnya bisa bernyanyi sebagus Firman? Tapi nyatanya bertolak 180 derajat. Suaranya memang keras tapi amat cempreng.... Sampai semua anak-anak Biologi tahu betul khasnya suara Christina.
‘Iya...iya...’ jawab Edo dengan tegas.
‘Semuanya ikut kan? Matty, Wulan, Lia ama Yuni. Mereka ikut juga kan?’ tambahnya.
‘Iya. Mereka ikut. Ya udah deh sampai besok’. Christina pun pergi meninggalkan Edo.
Alunan musik dari gitar mengalun merdu. Disertai suara-suara fals dari belakang. Ditambah satu suara cempreng membuat keadaan di dalam mobil Espass itu menjadi gaduh dan ribut. Maklum ini kali pertama mereka jalan-jalan bareng sekalian mempererat pertemanan mereka karena masih baru kenal. Belum mengenal satu sama lain.
Perjalanan selama kurang lebih 2 jam itu mereka lalui dengan bercanda-canda. Sambil bernyanyi-nyanyi riang sesekali mereka memandang indahnya pegunungan dan sawah yang terhampar di hadapan mereka. Burung-burung berterbangan mengikuti laju kendaraan beroda empat itu seakan-akan ingin menikmati kebahagiaan yang dirasakan oleh Edo dan sahabat-sahabatnya.
‘Aduh.... berhenti dulu dong.... kebelet neh...... ada pom bensin ga? Aduh ga tahan neh.....’ bisik Yuni ke telinga Lia.
‘Edoo.. bisa berhenti dulu ga? Tuh di depan ada pom bensin.’ Lia segera menunjuk arah tanda gambar Pertamina.
‘Si Yuni dah ga tahan nih....’ lanjutnya.
Yuni....Yuni...Yuni...Prameshwara Asri Wahyuni. Wanita berkerudung ini memang agak manja. Apapun yang dia ingin pasti harus dilakukan. Seperti saat ini.
Di samping Yuni duduk pula Lia. Devalia Deshi Utami. Lia adalah wanita yang bijaksana dan dia juga telah bertunangan dengan lelaki asal Majalengka yaitu Yoga Indra Prabowo. Namun jangan lengah karena melihat penampilannya yang alim. Di balik itu semua terdapat kepribadian yang membuat semua orang menjerit dan membelalakan mata. Wanita penggoda. Julukan itu yang bisa disematkan kepadanya.
Mereka berdua segera menuju toilet di belakang. Sementara itu Matty dan Edo mengisi bensin. Christina dan Wulan tertidur pulas di jok belakang.
‘Bentar lagi nyampe’ kata Edo pada Matty.
Matty adalah sahabat karib Edo ketika di masa Ospek. Matthew Talahat Muson Gallendra. Nama yang agak aneh untuk orang Indonesia. Orangnya cukup baik dan enak untuk diajak curhat namun lelaki itu amat tertutup tentang dirinya sendiri.
‘Oh ya?’ balas Matty
Rupanya Matty sudah tak sabar ingin sampai ke tujuan. Rumah saudara Edo di Ciparay. Udara yang sejuk dan lembut. Hamparan permadani yang hijau. Kolam ikan yang berisi ikan-ikan mujair yang siap dipancing dan alunan gemericik air sungai yang mengalir. Matty pun membayangkan semuanya itu sepanjang perjalanan tadi.
Rumah 1 lantai berdiri kokoh di atas tanah yang luas. Terlihat tempat parkir mobil dan tempat cuci mobil di sampingnya. Warung di depannya. Kolam dan kebun di pinggiran lainnya berdekatan dengan mushalla. Rumah yang mempunyai 4 kamar itu cukup luas untuk tempat menginap mereka. Mereka akan menginap di ruangan belakang dekat kolam yang terdapat 1 kamar kosong.
Mereka masuk. Edo memperkenalkan sahabat-sahabatnya kepada saudaranya. Edo berbicara bahwa mereka akan menginap selama 2 hari. Dia pun bergegas menyusul ke 5 sahabatnya ke ruangan belakang setelah mendapatkan ijin dan merapikan ruangan tersebut.
‘Kita semua tidur disini yah.’ bisik Edo kepada ke 5 sahabatnya. Laki-laki tidur di sebelah kanan dan wanita tidur di sebelah kiri. Mereka berenam langsung tertidur pulas setelah perjalanan yang lumayan panjang. Mimpi pun menjadi saksi kebisuan mereka yang pikirannya telah terbawa ke alam lain.
‘Banguun.....sshh.....banguuunnn.....’
Suara mendesah terdengar di telinga Edo. Terdengar seperti suara seorang wanita yang menginginkan belaian seorang laki-laki. Suara orang yang ingin diberi kehangatan dan kenikmatan. Suara yang haus kasih sayang. Suara yang.........
‘Wooooiiiii banguuuunnnnn..............’ jerit Christina.
Bayangannya buyar seketika. Kepalanya mendongak. Dengan kesal ia pun bangun dan segera membersihkan diri dan mandi. Edo menggerutu kesal dan bergumam selama ia mandi. Tapi kekesalan itu hilang sirna setelah ia melihat seonggok makanan berwarna putih di atas meja beserta suatu bumbu berwarna merah. Itu... itu kan BANGKEROK ....... teriak Edo sambil melepaskan handuk yang melilit tubuhnya. Tak dihiraukan lagi mata-mata yang melihat dirinya yang hanya memakai celana dalam. Model tanga pula. Edo begitu sibuk dengan makanan di mulutnya. Dengan santai ia bertanya pada yang lainnya.
‘Kok ga pada makan? Enak loh.... Cepetan keburu abis ma gw...’
Edo dengan lahap menyantap ketan goreng yang dinamakan bangkerok itu. Makanan itu menjadi favoritnya di Ciparay. Datang ke Ciparay tidak lengkap tanpa kehadiran makanan dari ketan tersebut. Begitu pikir Edo.
Setelah makan, Edo segera menuju kamar. Diraihnya kaus berwarna hitam yang tergantung di pintu dan celana pendeknya. Dia memberi isyarat pada Matty. Mereka berdua menuju dapur dan segera ke kolam. Mereka berdua memang berencana memancing hari itu.
Melihat gelagat 2 orang lelaki itu, Wulan dan Lia segera mengambil ember kecil untuk ikan. Christina dan Yuni segera bergabung setelah mereka membersihkan piring tempat makan bangkerok tadi.
Mereka berenam berkumpul di tepi kolam. Saling bergantian memegang tali pancing. Namun hanya Edo yang mendapatkan ikan. Wulan dan Matty memang mendapatkan ikan namun kecil dan tak bisa dimakan. Akhirnya ikan kecil tersebut dibuang lagi ke kolam. Sementara Christina, Lia dan Yuni tidak mendapatkan apa-apa. Mereka memancing hingga pukul 2 siang. Ikan yang tertangkap sekitar 8 ekor. Cukup untuk makan siang hari ini.
Ikan bakar kecap tersaji di meja. Ikan goreng mentega pun ada. Menu hari ini serba ikan. Plus sambal dadakan dan sambel goreng yang mak nyusss. Tersedia juga sayuran seperti selada dan mentimun. Makanan ala orang desa tersaji hari itu.
Edo menyambar ikan bakar. Dicoleknya sambel goreng dengan selada. Nikmatnya makanan hari itu pikir Edo. Wulan pun tak kalah. Dia menyambar 2 buah ikan goreng mentega. Kecil-kecil makannya banyak.
‘Eh.... tau ga di kampus ada geng Bondinc...?’ Lia membuka obrolan.
‘Oh yang anggotanya cewe-cewe yang sok cantik itu yah...’ jawab Matty dengan gayanya yang dibuat-buat kemayu.
‘Mereka emang cantik-cantik ko...!’ balas Edo.
Di biologi terdapat salah satu geng yang paling populer yaitu Bondinc. Mereka terdiri dari 4 orang wanita yang super duper sexy. Rambut mereka tergerai lurus mirip iklan shampo ternama. Banyak laki-laki yang sering melirik mereka. Tapi sayang seribu sayang. Wanita-wanita itu tak mau peduli akan lirikan laki-laki yang menatap dengan telanjang kepada mereka. Mereka menganggap itu hanya tatapan kekaguman penggemar terhadap idolanya. Mungkin saja. Tapi lirikan itu seakan-akan menginginkan sesuatu yang lebih dari rasa kagum. Keinginan untuk menjamah. Keinginan untuk mencumbu. Keinginan semua lelaki yang menginginkan sesuatu terhadap pasangannya.
‘Apalagi yang namanya Juwita Putri Hapsari. Tuh cewe sering dilirik anak-anak kampus.’ tambah Edo.
‘Kayanya tuh geng cewe lebih terkenal yah’ Wulan mulai tertarik untuk mengomentari percakapan.
‘Kalo mau terkenal napa kita ga bikin geng juga?’ Yuni menambahkan.
Perkataan Yuni membuat kelima orang tersebut saling melirik. Kenapa hal itu tidak terpikir oleh mereka. Membuat geng. Ya. Geng. Geng mereka sendiri. Geng yang akan membuat mereka terkenal. Saingan Bondinc. Yah. Geng kedua di Biologi.
Setelah berdiskusi lama akhirnya mereka sepakat untuk membentuk geng mereka. GGG (G-three). Singkatan dari Geng Gaul Gitoeh. Maka tanggal 18 April 2004. dibentuklah suatu geng yaitu G-three dengan anggota Edo Satria Purnamalaki, Sekar Ayu Wulan, Matthew Talahat Muson Gallendra, Christina Martha Siagian, Prameshwara Asri Wahyuni dan Devalia Deshi Utami.
.jpg)



0 comments:
Posting Komentar